Bismillah...
Untuk pengetahuan semua, siri Hiburan Untuk Para Da'i itu aku ambil daripada buku Pelembut Hati. Itu adalah praktikal yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita. Mereka telah membuktikan teori amal. Namun, aku nak tegaskan di sini aku juga masih belajar untuk mempraktikkan teori amalku.
Di sini aku nak ucapkan selamat berpuasa! Semuanya nampak semangat untuk mengejar ganjaran pahala. Fastabiqul khairaat..
Sedikit ole-ole (refleksi):
Kita selalu mencanangkan kesyumulan dakwah kita. Kita berteori yang gempak-gempak. Tarbiyah imaniyah. Jika aqidahnya "settle", semua benda akan selesai. Kita fokuskan pembinaan pemikiran. Kita sumbat otak kita dengan teori. Kononnya untuk mensintesis kefahaman. Tapi kita tak diajar aplikasinya. Kefahaman didapati dari teori atau aplikasi? Aku bingung...
Kita menguasai pelbagai bahan. Kita membaca pelbagai buku. Kita berceramah ke sana-sini. Kita hebat. Semua orang tahu. Tetapi pembinaan bukan pada pemikiran sahaja. Ruhiyah dan jasadiyah kita bagaimana? Adakah kita membinanya?
Kita ingin lahirkan pemimpin seperti Umar. Tapi tahukah kita, Umar itu bukan sekadar dalam pengetahuan Islamnya. Ia seorang panglima tentera yang sangat banyak ibadahnya, paling kuat tangisnya dalam munajat tahajudnya dan semua kebaikan terkumpul padanya. Sehingga syaitan pun takut kepadanya.
Kadang-kadang "kemampuan" kita terbatas dan kita sukar meyakinkan semua orang...
Allahua'lam
About Me
- ibnu yazid
- Taiping, Perak, Malaysia
- menulis untuk kurangkan stress dan tension
Label
- Bedah Buku (27)
- dari hati... (20)
- dari pena penulis... (74)
- Hadis (8)
- Hiburan Itu Indah (7)
- I Think (11)
- Islam dan Sains (3)
- isu-isu semasa Islam (15)
- Jihad (6)
- Karutan Ilmiah (12)
- ketidakpuasan hati (13)
- Lain-lain (25)
- Pembangun jiwa (15)
- pengalaman hidup (11)
- Self-Introspection (70)
- Sirah (4)
- suka hati aku nk tulis apapn (11)
- Tazkirah (34)
- Video (7)
- Video Tutorial (1)
Wednesday, September 02, 2009
Fastabiqul Khairaat....
shinobi
ibnu yazid
on
01:33
3
shuriken
Tuesday, September 01, 2009
Siri 13 (Akhir): Mati Secara Terhormat
Bismillah...
Sebagaimana di Mesir, hal yang sama terjadi pula di kalangan generasi pertama Iraq seperti yang dilakukan oleh Abu Safwan ad-Dabbagh, penulis risalah yang berjudul Ma'a an-Nasyi'ah, sebuah risalah yang nipis tapi bagus sekali.
Salah seorang yang terpercaya di antara teman-temannya menceritakan kepadaku sebagai berikut:
"Ia menderita sakit kanser dan penyakitnya itu makin parah di tahun 1952. Penyakitnya itu memaksanya berbaring di hospital selama beberapa hari, seakan-akan ia merasakan dirinya berada di penghujung usianya, lalu ia meminta agar dapat bertatap muka dengan pemimpin dakwah saat itu. Maka datanglah pemimpin itu dengan ditemani oleh para da'i lainnya, di antaranya adalah perawi kisah ini sendiri. Ia memberitahukan kepada mereka bahawa ajalnya semakin dekat lalu ia membaca syahadah dan membaca sesuatu dari al-Quran. Setelah itu, ia menjabat tangan pemimpinnya dan menyatakan pembaharuan bai'ahnya dan kesetiaannya kepada dakwah. Ia menitipkan salamnya kepada mereka untuk semua para da'i yang ada saat itu juga kepada para da'i lainnya yang akan datang kemudian. Sesudah itu ia mengulangi kalimah syahadah dan meninggal dunia saat itu juga sesudah memperbaharui bai'ahnya."
Semoga Allah merahmatinya.
Renungkanlah.
Itulah kesudahan yang terpuji dan tidak akan dicapai kecuali oleh orang yang mempunyai prinsip yang benar dalam hidupnya.
Renungkanlah ketinggian cita-citanya yang seakan-akan ia berada di ruang tunggu air port sedang mengucapkan selamat tinggal atau seperti orang yang berada di stesen kereta api di trotoar relnya.
Seorang saudaramu telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan ini, barangkali saat itu engkau belum lahir. Ia menitipkan salam penghormatannya untuk disampaikan kepadamu dan ia meminta kepadamu supaya tetap teguh dan concern dengan tugas dakwah seperti yang telah dialaminya semasa ia sihat dan masih aktif. Ia mengalaminya pula pada detik-detik akhir dari hidupnya sehingga ia merasakan pula nikmatnya perjalanan menuju Tuhan yang telah mengurniakan nikmat kepada hamba-hambaNya.
Sesungguhnya dalam kisah-kisah ini benar-benar terkandung pelajaran yang tidak memerlukan lagi ungkapan yang indah-indah dan paramasastra yang dibuat-buat oleh para pujangga untuk mengutarakannya.
Memang benar bahawa cita-cita itu bertingkat-tingkat dan cita-cita itu sama sekali tidak dapat mencapai puncak ketinggiannya saat kesudahan dan kepudarannya, kecuali bila sejak langkah pertamanya memang telah dicanangkan cita-cita yang tinggi.
Itulah peristiwa-peristiwa dan kisah-kisah yang dialami oleh para da'i yang bisa diambil pelajaran dan nasihat darinya. Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang mengatakan, "Ya Allah himpunkanlah kami bersama dengan mereka di rumah kehormatanMu (syurga)."
Demikianlah kami ceritakan kisah-kisah ini kepada para da'i Islam. Mudah-mudahan mereka mengikuti jejaknya.
Wallahu a'lam bish Shawab.
p/s1 Siri Pembangun Jiwa 1 - 13 diambil daripada buku Ar-Raqaiq (Pelembut Hati) yang ditulis oleh Ustaz Muhammad Ahmad Ar-Rasyid.
p/s2 Alhamdulillah (^_^) Kuchiyose no jutsu! Habis dah...
shinobi
ibnu yazid
on
14:10
0
shuriken
jutsu Pembangun jiwa
Monday, August 31, 2009
Siri 12: Para Pengikut Hasan Al-Banna Melakukan Pembaharuan
Bismillah...
Generasi abad ini dari kalangan para da'i di negeri Mesir menghidupkan kembali gambaran indah masa lalu itu, demi untuk membuktikan bahawa Islam yang telah melahirkan orang-orang besar itu tetap hidup kemampuan produksinya.
Imam Hasan al-Banna menggambarkan perihal teman-temannya dalam perkataan berikut:
Mata mereka masih tetap berjaga ketika orang lain tidur. Jiwa mereka penuh dengan kesibukan ketika orang-orang malas lelap dalam tidurnya. Seseorang di antara mereka tekun di pejabatnya mulai dari asar sampai tengah malam sebagai pegawai yang penuh dengan dedikasi dan sebagai seorang pemikir yang penuh dengan kesungguhan. Sepanjang bulan ia tetap seperti itu dan menjadikan pendapatannya sebagai pendapatan bagi jemaahnya, nafkahnya sebagai nafkah bagi dakwahnya dan hartanya sebagai sarana untuk meraih tujuannya. Sedang realiti kehidupannya mengatakan kepada anak-anak bangsanya yang lalai tentang pengorbanannya, "Aku tidak meminta kepada kalian atas dakwahku ini suatu upah pun; upahku tiada lain hanyalah dari Allah." [Ila Ayyi Syai'in Nad'un-Nas]
Subhanallah. Pengorbanan apakah lagi yang lebih besar dari pengorbanan dalam menegakkan ad-deen ini? Kuchiyose no jutsu! Habis dah...
shinobi
ibnu yazid
on
10:40
0
shuriken
jutsu Pembangun jiwa
Saturday, August 29, 2009
Siri 11: Para Pengikut Mazhab Hambali Memelihara Ciri Khas Ini
Bismillah...
Ibnul 'Aqil, seorang ulama Nahu dan ahli Fiqh pengikut mazhab Hambali merupakan sosok da'i yang hati dan pemikirannya bahkan mimpinya telah menyatu dengan dakwah. Keadaan ini terbaca jelas melalui ucapan Ibnu 'Aqil sendiri seperti berikut:
Sesungguhnya aku tidak menghalalkan diriku menyia-nyiakan satu saat pun dari usiaku. Manakala lisanku enggan melakukan diskusi atau dialog ilmiah dan mataku malas membaca, maka aku tetap mengaktifkan fikiranku sekalipun tubuhku istirehat terlentang. [Dzailu Thabaqatul Hanabilah, 1/146]
Perhatikanlah berapa jam dari waktu siang dan malam harimu yang kamu buang-buang dengan sia-sia?
Berkenaan dengan pekerti seorang syeikh ahli zuhud dan ahli fiqh bernama Muhammad Ibnu Ahmad ad-Dibahi, mereka mengatakan:
Ia tekun dalam ibadahnya dan melakukan kerja rutinnya dengan penuh kesungguhan. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk kebaikan. Kukuh dalam prinsip agama dan rajin memberi nasihat kepada saudara-saudaranya. Apabila seseorang melihatnya, ia pasti mengetahui petanda keseriusan dari wajahnya. [Dzailu Thabaqatul Hanabilah]
Memang demikianlah seharusnya ciri khas dan karakteristik para da'i di sepanjang zaman. Tanda kesungguhan mereka terbaca dari wajah mereka dan tidak akan luput dari penglihatan orang yang memandangnya.
Mereka tidak punya waktu bergurau, tertawa atau bermalas-malasan.
p/s kita bagaimana pula? Kuchiyose no jutsu! Habis dah...
shinobi
ibnu yazid
on
09:03
0
shuriken
jutsu Pembangun jiwa
Thursday, August 27, 2009
Siri 10: Tak Ada Waktu Luang
Bismillah...
Syaqiq al-Asadi wafat seiring dengan berakhirnya masa sebaik-baik generasi yang pertama, kemudian muncullah khalifah terpimpin yang kelima iaitu 'Umar ibnu 'Abdul Aziz berperan sebagai teladan.
Sejarah hidupnya diceritakan oleh isterinya iaitu Fatimah binti 'Abdul Malik melalui ungkapan berikut:
Ia telah mencurahkan semua waktunya untuk kaum Muslimin dan hatinya selalu memikirkan urusan mereka. Apabila sampai di petang hari sedang urusan siang ahrinya belum dapat diselesaikannya maka ia melanjutkan sampai malam hari.
Dengan demikian 'Umar telah membuat keteladanan bagi da'i Muslim apabila dia ingin bersikap jujur dengan dakwahnya dan menunaikan amanah yang dibebankan kepadanya.
Kejujuran seorang da'i ialah bilamana ia dapat menghidupkan kembali pola kehidupan 'Umar dan memusatkan perhatian dirinya untuk kepentingan kaum Muslimin. Ia tidak melakukan aktiviti keduniaan melainkan sekadar untuk memenuhi tuntutan memberi nafkah anak-anaknya. Lalu ia mencurahkan hatinya untuk urusan penting sehingga tiada yang terlintas di dalam benaknya kecuali memikirkan kepentingan dakwah.
Pernah teman-teman lama 'Umar datang kepadanya lalu mereka mengingankan agar 'Umar mengadakan suatu pertemuan dengan mereka guna bernostalgia seraya berkata:
"Seandainya engkau memberikan waktu luangmu untuk kami"
'Umar menjawab, "Di manakah ada waktu luang? Waktu luang telah pergi dan tiada waktu luang lagi kecuali di sisi Allah." [Thabaqat Ibn Sa'd 5/397]
'Umar mengajarkan hal ini kepada tiap orang yang menekuni bidang dakwah sesudahnya apabila teman-teman lamanya mengajaknya untuk membuang-buang waktu.
Orang sukses yang berkeliling berjalan kaki seraya membawa tas ilmu:
Murid-murid Imam Ahmad ibnu Hanbal dan para pengikut madzhabnya, sepeninggalnya sentiasa menggunakan berbagai alat peraga dalam aktiviti tarbiyah dan pembinaan mereka. Kerana sesungguhnya keadaan mereka sebagaimana yang dikatakan oleh ulama fiqh ahli nahu Ibnu 'Aqil:
"Kesungguhan telah menguasai diri mereka dan mereka jarang melakukan senda gurau"
Di antara murid-muridnya adalah al-Hafiz al-Imam seorang ulama fiqh, ahli zuhud dan ahli hadis iaitu Ishaq ibnu Mansur yang dikenal dengan panggilan al-Kausaj, guru Imam Bukhari, Imam Muslim dan ulama hadis lainnya. Ia tinggal di Naisabur, Khurasan lalu berangkat ke Baghdad dan mencatat dari Imam Ahmad banyak masalah fiqh lalu ia pulang ke Naisabur.
Setelah mendengar bahawa Imam Ahmad meralat sebahagian pendapatnya, maka ia memasukkan catatan itu ke ke dalam tas (beg) kemudian ia memanggulnya di atas bahunya dan pergi menemui Imam Ahmad dengan jalan kaki dari Naisabur ke Baghdad. Sebelum itu ia telah menulis komentarnya pada tiap-tiap masalah yang pernah ditanyakannya kepada Imam Ahmad. Setelah ia memaparkan hal itu kepada Imam Ahmad, ternyata Imam Ahmad mengakui kebenarannya dan merasa kagum dengan upaya yang telah dilakukannya. [Tazkirat al-Huffaz, adz-Zahabi 2/254]
Sedang seseorang di antara kita sekarangduduk di atas kerusinya dan di sebelahnya terdapat kitab Musnad Imam Ahmad yang telah dicetak, dikoreksi, dijilid dan dihiasi dengan tinta emas, akan tetapi ia malas membacanya.
p/s ana tengah duduk atas kerusi dan ada banyak kitab/buku kat sebelah ni tapi diri ini malas sekali nak membacanya. Allah... Kuchiyose no jutsu! Habis dah...
shinobi
ibnu yazid
on
14:57
1 shuriken
jutsu Pembangun jiwa
Blogosphere
-
-
-
-
-
Antara dua pilihan4 years ago
-
-
-
Cinta itu sentiasa ada persoalan …8 years ago
-
-
Why I love working in Emergency Department10 years ago
-
-
EXPRESS 201412 years ago
-
Coretan di pasir dan di batu12 years ago
-
Beberapa Prinsip Dalam Menghukum12 years ago
-
MAHUKAN MP3?12 years ago
-
Menulis kembali12 years ago
-
Eh eh. Blog Usang.12 years ago
-
Knowledge VS Wealth13 years ago
-
AlQuran VS ASME13 years ago
-
-
Taat pada pemimpin yang zalim13 years ago
-
-
-
M U J A H A D A H13 years ago
-
JOM! RAIKAN FITRAH KITA13 years ago
-
Keagungan Sabar14 years ago
-
-
Gambaran Ustazyatu Alam (Satu Dialog)15 years ago
-
-
-
kuburan malam15 years ago
-
Tinta Da'awi16 years ago
-
Aku Pijak di Medan Bumi16 years ago
-
The Divine Book16 years ago
-
-
-
-