Monday, January 11, 2010

Aku ingin mati syahid...

Bismillah...

Bila tertengok AJL tadi (sebab pi makan), teringat lagu ni. Tak banyak yang perlu aku coretkan. Kali ini biarlah air mata ini mengalir sebagai saksi cintaku kepada kamu, wahai saudara-saudaraku...

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can`t see which way to go
Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way

Everytime you can make one more mistake
You feel you can`t repent
And that its way too late
Your`re so confused,wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame


Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way
Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way

Turn to Allah
He`s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don`t let me go astray
You`re the only one that showed me the way,
Showed me the way 2x
Insya Allah3x
Insya Allah we`ll find the way

by: Maher Zain

Wahai hati, menangislah! Kelak kau akan dipertanggugjawabkan!!



Kuchiyose no jutsu! Habis dah...

Friday, January 08, 2010

Adakah Anda Seorang Penganggur?

Bismillah... [copy & paste]

Dakwatuna.com – Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”


Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh.

Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan), at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah (tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).

Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.


Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:

* Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.
* Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman
* Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah
* Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu
* Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya
* Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan
* Mengambang dan target yang tidak jelas
* Tidak interaktif dengan proses tarbawi
* Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.
* Melemahnya rasa tanggung jawab
* Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh
* Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal
* Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir
* Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen
* Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah
fi sabilillah
* Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah
* Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.
* Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya
* Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah

Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alasan untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas

Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”

Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”

Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”

Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan “siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah:

“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad.

Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan.

Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”

Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali.


Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:

“Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal tidak berguna dan main-main??!!”

(Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad, Sumber: http://www.islameiat.com/main/?c=54&a=3954)

Allahu a'lam. Semoga kita mengambil manfaat daripada artikel ini. Sekadar perkongsian dari hamba Allah yang lemah.

Kuchiyose no jutsu! Habis dah...

Wednesday, January 06, 2010

Wahai diri! Tolonglah ikhlas...

Bismillah...

Dalam hidup kita kat dunia ni, keikhlasan adalah benda yang paling susah nak buat. Nak cakap ikhlas kat mulut senang je tapi dalam hati sape tau kan. Nak gi sembahyang kat masjid, adakah ikhlas kerana Allah atau sebab malu kat member? Nak gi library, adakah nak cari ilmu kerana Allah atau nak orang nampak dia rajin sangat? Nak join usrah sebab nak perbaiki diri menjadi lebih baik atas perintah Allah atau nak cari akhwat tudung labuh? Dan setiap detik hidup kita diuji dengan ujian keikhlasan. Setiap benda yang kita nak buat (benda baik) mesti dengan niat yang ikhlas, kalau tak amalan tak diterima. Sebab keluar hadis 1 (Niat) tu adalah apabila ada sahabat yang nak berhijrah kerana wanita.

Camne kita nak ikhlas? Nak pastikan setiap yang kita buat tu ikhlas bukan mudah. Salah satu sebab susah nak ikhlas adalah masih ada kepentingan peribadi yang nak jaga.

"Nak pinjam boleh tapi jangan lupa isi minyak balik", nada macam nak tak nak je bagi pinjam.

Apa perasaan orang yang nak pinjam bila dengar ayat camni? Aku berani komfem, kalau la korang yang dengar ayat camni, korang mesti nak cakap camni kan,

"Nampak sangat tak ikhlas.." (dalam hati je kot sebab mungkin time tu desperate sangat nak guna)

Kadang-kadang ikhlas atau tak susah nak detect. Tapi selalunya kita perasan sama ada kita ikhlas atau tak. Dan certain orang ada "special intention" yang boleh rasa keikhlasan seseorang. Mungkin dengar macam su'uzhon (sangka buruk) tapi prasangka tak semuanya dosa kan? Dapat rasa dari gaya bahasa, nada suara, body language etc. Macam contoh kat atas tu la.

Camne nak ikhlas nih? Buang jela semua kepentingan peribadi tu. Tapi bukan senang nak buang. Camne ek? Macam hukum aksi dan reaksi. Kalau aku ......., nanti ....... Kita tak buat lagi benda tu tp kita dah fikir consequences dia. Masalahnya hanya timbul bila kita hanya fikirkan apa yang kita akan dapat daripada transaksi tu. Kalau fikir redha Allah saja, alhamdulillah. Tapi most of the time tak macam tu. Kita selalunya fikir something yg memberi manfaat kepada diri kita secara material.

Mungkin kita kurang berdoa. Hubungan dengan Allah tak jaga. So, kita membuka pintu kepada setan untuk masuk sewenang-wenangnya la kan. Kita buat sesuatu sebab nak dapat redha manusia kot. Atau imbalan-imbalan duniawi yang lain.

Dalam kerja dakwah ni lagi la banyak ujian keikhlasan ni. Lagi banyak dari esaimen, projek, test, quiz masa blaja nih. Ramai yang fail tapi tak sedar. Yelaa, setan dah tukar yang buruk dengan yang molek2. Dia ni tak akan putus asa nak dakwah manusia masuk neraka sekali dengan dia. Dasar setan! Tapi dia cakap dia takkan boleh sesatkan hamba2 Allah yang mukhlis (ikhlas). Tapi, once again, nak ikhlas bukan mudah. Sebelum sampai tahap ikhlas tu, setan akan hantar bala tentera untuk goda kita supaya turun level. Tapi tahap macam aku ni perlu ke setan goda? Dengan hawa nafsu sendiri pun kalah Ishhh...lemahnya...........................

Awalnya kita join dakwah. Lamanya kita tarbiyah. Banyaknya halaqah yang kita bawa. Menjadinya mutarabbi hasil didikan kita. Tebalnya buku yang kita baca. Lazimnya kita ke majlis ceramah agama. Petahnya kita menyampaikan daurah. Banyaknya duit yang kita infaq. Sedikitnya tidur dan rehat kita kerana dakwah. Habis kredit kita menelefon/sms di jalan dakwah. Penatnya kaki melangkah berziarah anak usrah. Keringnya poket belanja mad'u. Lajunya jari menaip post ni. hehehe.

Adakah semuanya ikhlas kerana Allah?

Allahua'lam. Anda mampu mengubahnya!

p/s its flowing. it can't be stopped anymore...

Kuchiyose no jutsu! Habis dah...

Sunday, January 03, 2010

If


If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you
But make allowance for their doubting too,
If you can wait and not be tired by waiting,
Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream–and not make dreams your master,
If you can think–and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build ‘em up with worn-out tools:

If you can make one heap of all your winnings
And risk it all on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breath a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: “Hold on!”

If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with kings–nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you;
If all men count with you, but none too much,
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And–which is more–you’ll be a Man, my son!

–Rudyard Kipling


Kuchiyose no jutsu! Habis dah...

Friday, January 01, 2010

Plan Your Life Planning

Bismillah...

Where should I start?

It's not about new year celebration, 2009's resolutions or 2010's missions - at all. Maybe there's a lot of bloggers wrote on the same topic over and over again every year. Reflections and evaluations. What we have achieved last year? Do all our missions accomplished successfully? Are we satisfy with all our achievements? If yes, what's our next plan? If no, what should we do to improve? SWOT analysis? Everyone -maybe- do this. Congratulations! May Allah bless us for every effort we put forth especially in our best-est job (everyone were responsible for this job - no exceptions- ), da'a ila Allah (41:33).

Nowadays, personal life planning is vital. We're prisoned in complex "genjutsu" world. Sometimes, we have a lot of time. Staying in front of computer, surfing internet, write new blog's post, sleeping and of course slothful. But sometimes, we also can be busiest people in the world. Then, only at that time we realize how valuable the time we had waste before. It's no use crying over spilt milk or Malay like to say nasi sudah menjadi bubur. But, bubur still can be eaten right? Thus, time management and life planning might help us in living our life systematically. Munazzhomun fi syu'unihi (well-planning and well-organized), as one of our goals to become a true Muslim.

I know many of us had already planning their life this year. I'd just read at facebook that one of my friend set to get married on 01 November 2010. Perhaps one or more of RI's member (except Khubaib will 'aqad nikah' tomorrow) will also get married this blessing year. Who knows. Let us pray for 'him'. Thus, here I like to share some tips on life planning. Frankly, I just copy and paste this article from internet. So, enjoy your reading. (^_^)

---------------------------------------------------------------
Life Planning

Life planning is a process by which a person takes a more proactive role in planning his or her life. Life planning combines personal reflection and goal-setting in a somewhat formalized or structured process to arrive at a plan to achieve specific goals. No one is in complete control of all life’s events, nor is anyone at the complete mercy of random chance, luck or fate. There is the area between the two extremes in which a person can exert greater influence over the course of his or her life. Life-altering decisions are made daily, and aligning those daily decisions according to a life plan will help you reach the goals you’ve set. Here are some life planning recommendations that will help make the process easy and rewarding for you:

Life Planning Recommendation #1: Formalize It

Most people spend more time each year on grocery lists than on a plan for their life. Take your life planning seriously, but have fun with it. Set aside time without distractions to contemplate and decide what your goals and aspirations are. Commit your thoughts to paper or a goal-setting application, such as myGoals.com.

Life Planning Recommendation #2: Seek Guidance

If you’re not comfortable with personal reflection and self-analysis, you may find it useful to have a coach or mentor help you with your life planning.

Clearly determine what your goals are. Be specific.

  • Bad: “To travel more”
  • Good: “To Backpack through Europe Next Summer”

It is best to manage some short-term, some mid-term, and some long-term goals at the same time.

Life Planning Recommendation #4: Create Your Goalplans® (Very Important Step)

Identify and list all the obstacles standing between you and the goal. Identify resources, assistance, information or anything else that might be needed to reach the goal. As you're writing, don’t get discouraged by the obstacles–they’re an absolutely necessary part of your plan. Taking each obstacle one at a time, write one or more ways the obstacle could be overcome. These are tasks (or action items) that will comprise your to-do list. Expect to have several tasks per obstacle. Assign a start and completion date to each task in the plan. It’s ok to be working on several different tasks at the same time, but don’t over do it. Be realistic.


Life Planning Recommendation #5: Share Your Plans with Others

No one becomes successful alone. Individual achievement is greatly impacted by your abilities to ask for assistance, solicit support from friends, family, co-workers, mentors and others with experienced in the area of your pursuit. Only involve those people who will truly support your efforts.


Life Planning Recommendation #6: Persevere

Some of the most rewarding achievements require the greatest investment in time and resources. Having a commitment to persevere, especially when faced with obstacles, is a key differentiator between success and giving up too soon.


Life Planning Recommendation #7: Reassess and Be Flexible

Circumstances change, unexpected events occur, and your life plan and goals should be updated to adapt to changes. Use myGoals.com to help construct your GoalPlansTM and modify it regularly. Don’t be afraid to change your priorities and reassess your direction. Life planning is a dynamic process and full of unforeseeable opportunities.

Life Planning Recommendation #8: Enjoy the Journey

Life planning is an ongoing, exciting way to better chart your course through life as opposed to simply drifting or being at the whims of fate. This is your life–make of it what you can and enjoy the process.

--------------------------------------------------------------

Last but not least, always put your trust in Allah. May He guide us through our life and gives us strength to implement our planning insyaAllah.


Tawakal not "Tawa n Kool"

Allahu a'lam



Kuchiyose no jutsu! Habis dah...
Template by - paley_11 | Daya Earth Blogger Template